Last Update: May 12, 2012, 11:32 WIB       ENGLISH VERSION  |  BLOG       

Kegelapan Tak Kunjung Pergi

“saya harus menabung untuk menyewa genset untuk pernikahan anak saya, maklum disini gak ada listrik. Kalau orang hajatan rumahnya gelap bisa malu dengan tetangga-tetangga yang lain”.

Demikian penuturanTuriyem (36 tahun) yang akan menikahkan anak satusatunya. Turiyem tinggal di dusun Domas, Kecamatan Karang Gayam, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Sebuah dusun terpencil yang terletak di wilayah utara Kebumen yang berbukitbukit dan berbatasan dengan Kabupaten Banyumas. Untuk mencapai dusun Domas, kita harus naik angkutan desa selama 2 jam, dilanjutkan dengan ojek selama 20 menit atau berjalan kaki selama 60 menit.

Adalah seorang buruh tani, yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan yang merantau ke Jakarta dan hanya bisa pulang satu kali dalam satu atau tiga bulan. Menurut Turiyem, pendapatan keluarga mereka tidak menentu, kadang mereka bisa mendapatkan 700 ribu rupiah sebulan, kadang kurang dari 500 ribu rupiah. Rata-rata penduduk Dusun Domas yang berjumlah 33 kepala keluarga yang juga bekerja sebagai buruh atau petani memiliki pendapatan yang kurang lebih sama dengan keluarga Turiyem.

Dusun Domas merupakan salah satu sekian banyak dusun di Kebumen yang belum memiliki akses atas listrik. Turiyem menyatakan bahwa warga dusunnya mengandalkan minyak tanah sebagai sumber penerangan sehari-hari. Mereka makin kesulitan saat harga eceran minyak tanah yang semula berharga 3500 rupiah melonjak menjadi 9000 rupiah, bahkan 10 ribu rupiah semenjak Pemerintah melaksanakan program konversi minyak tanah ke gas.

Turiyem menyampaikan bahwa keluarganya harus membelanjakan kurang lebih 10 persen dari seluruh pendapatan bulanan mereka untuk membeli 7 atau 8 liter minyak tanah. Ketika ditanya, bagaimana jika mereka sedang tidak punya uang, ia berkata, “Nek boten onten lengo potrol nggeh petengan mawon” (“jika tidak ada minyak tanah, ya gelap-gelapan saja”). Lain lagi cerita Suminah, 38 tahun, warga Dusun Gentol. Perempuan ini merupakan penggerak di dusunnya yang aktif dalam mengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan kegiatan kelompok ibu-ibu di Kecamatan Karang Gayam.

Suminah mengatakan ada 4 dusun yang belum terjangkau listrik yaitu Dusun Gentol yang terdiri dari 58 Photo dari Capcure Film kepala keluarga (KK), Dusun Domas 33 KK, Dusun Kaliwara 49 KK dan Dusun Kali Gendo 50 KK.

Suminah bercerita pada tahun 2003 warga telah mengadukan persoalan listrik ini kepada Pemerintah daerah dan PLN Kebumen, tapi hingga kini tidak ada tanggapan dari mereka. Saat kampanye calon legislatif bulan Maret 2009, banyak caleg yang menjanjikan akan memperjuangkan masuknya tenaga listrik untuk keempat dusun tersebut. “Susah mbak, mereka hanya janji pada saat kampanye, setelah itu yah lupa sama rakyat kecil”, tutur Suminah sambil mengusap keningnya yang berkeringat. Saat kami tanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk memasang sambungan listrik, Suminah mengatakan warga diminta membayar biaya sebesar 1,9 juta rupiah untuk mendapatkan sambungan listrik dengan daya 450 VA, dan 3,4 juta rupiah untuk daya 900 VA. Dengan catattan , itupun hanya untuk dusun-dusun yang sudah terdapat jaringan listrik PLN.

Bagi warga Dusun Gentol, Kaliwara, Domas, dan Kali Gendo, yang ingin mendapatkan aliran listrik, mereka harus menyambung sendiri dari rumah-rumah warga yang sudah memiliki jaringan listrik di Dusundusun sekitarnya. “Saya gak sanggup untuk nyambung dari Dusun Soma, yang terletak 2 Km dari rumah saya, karena biayanya mahal sekali. Satu rol kabel untuk sambungan 100 meter butuh 100 ribu, mbak”, kata Suminah sambil menghela nafas. “Entah sampai kapan kami bisa mendapat listrik, kami ini cuma rakyat kecil”, tambahnya memandangi lantai tanahnya yang dipoles dengan semen kasar.

Selain listrik, bahan bakar untuk memasak juga menjadi kendala buat mereka. Sebagian besar ibu-ibu di keempat dusun tersebut mengeluhkan sulitnya mencari kayu bakar di hutan setempat, hutan yang dikelola oleh Perhutani dan ditanami pohon karet. “Wah, wedhi sama polisi hutan, nek ketangkep ngambil kayu, aritte dirampas, mbak” (Wah, takut dengan polisi hutan, kalau tertangkap sedang mengambil kayu, arit kita akan dirampas”) cerita Lasmini (42 tahun), seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang ojek. Warga desa lebih memilih menggunakan kayu bakar karena mereka tidak terbiasa dengan LPG. Selain takut akan meledak, harga gas relatif mahal serta sulit mendapatkannya. Untuk mendapatkan LPG isi 3 kg mereka harus naik ojek dan angkot yang biayanya mencapai 12 ribu rupiah, hampir setara dengan harga gas itu sendiri yang berharga 14-15 ribu rupiah di Kecamatan Karang Gayam.

Akses terhadap listrik dan bahan bakar bukanlah satu-satunya persoalan di keempat dusun itu. Akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan serta pembangunan ekonomi juga menjadi masalah yang berat untuk mereka. Satu-satunya layanan kesehatan bagi keempat dusun tersebut adalah puskesmas pembantu yang hanya buka pada hari Senin dan Kamis. Akibat keterbatasan ini warga yang sakit di hari lain terpaksa harus ditangani seorang Mantri (setingkat juru rawat) dengan biaya 25 ribu rupiah.

Sekolah yang ada di sekitar dusun hanya sampai tingkat menengah pertama. Tak heran jika rata-rata warga yang lulus SMP langsung menikah atau merantau menjadi buruh migran. Kemiskinan tampaknya masih akan menjadi pemandangan sehari-hari di keempat dusun tersebut, entah sampai kapan persoalan ini akan berakhir. Demikian juga dengan harapan mereka untuk mendapatkan penerangan yang layak dari tenaga listrik dan bahan bakar yang bersih dan terjangkau, yang tak kunjung terwujud. Photo dari Capcure Film Solar

Share